Rabu, 20 Oktober 2010

Alqur'an dikupas secara ilmiah

Ma’mun : Membaca tulisan-tulisan Anda tentang tafsir Qur’an yang ditujukan ke DPR RI saya sangat
            tertarik, karena bukan saja kupasannya demikian mendalam, tetapi juga ilmiah dan berpola.
            Dapatkah Anda menafsirkan kembali dari awal ?

Sandie    :Tentu, agar lebih jelas akan saya tafsirkan dari surat Alfatihah

Tafsir Alfatihah 1-7
  
         Bismillaahir rohmaanir rohiim = Dengan nama Alloh yang pengasih-penyayang

Ayat 1.  Puji bagi Alloh pencipta alam. Karena di awal penciptaan telah membangun Tuhan (Hukum) dan menyerahkan kekuasaan atas alam ciptaannya  kepada Tuhan sebagai penguasa semesta alam.
Ayat 2.   Alloh itu Akal bermoral pengasih-penyayang.
Ayat 3    Sedangkan Tuhan Alloh yang dibangunnya ialah Hukum Akal sebagai hukum evolusi sebab-akibat yang membebaskan makhluk memilih langkah hidup sendiri dalam menentukan nasib dirinya. Tetapi di hari akibat, Hukum Akal menguasai seluruh alam ciptaan dan berkuasa melaksanakan peradilan dengan memberi pembalasan setimpal terhadap setiap diri berdasarkan moral perilaku-perbuatan dirinya tanpa pembela dan tanpa penolong.
Ayat 4. Sebagai tanda terimakasih karena diciptakan (diberi kesempatan hadir dan hidup), kami bangsa akal yang menjadi katalisator penciptaan berjanji, hanya kepada Engkau (Hukum Akal) kami akan mengabdikan hidup, dan hanya kepada Engkau (Akal) kami akan meminta pertolongan.
Ayat 5.  Sedangkan kami bangsa rasa sebagai bahan jasad berjanji, setelah jadi makhluk wujud kami akan minta ditunjuki jalan hidup yang lurus kepada bangsa akal penghidup-pembangun jasad dan pemroses perilaku-perbuatan jasad kami.
Ayat 6.  Jalan lurus adalah jalan orang-orang yang beruntung, karena telah menggunakan nikmat akal tinggi yang Engkau (Alloh)  anugerahkan kepada mereka.
Ayat 7.  Bukan jalan mereka (bangsa rasa) yang merugi sebab menolak akal tinggi sehingga dimurkai Alloh, dan bukan pula jalan mereka (bangsa rasa) yang menganut hukum rasa-jasad sehingga tersesat dalam perjalanan hidupnya.

Tanggapan Ma’mun, Soreang, Kab. Bandung, Jawa Barat

Ma’mun : “Saya tertarik pada Qur’an tafsir ilmu di atas. Tetapi ada beberapa pertanyaan yang ingin disampaikan.
                        Pertama, pada terjemahan-terjemahan Qur’an, termasuk dalam Qur’an terjemahan Depag RI, kata bismillaahir rohmaanir rohiim masuk ayat 1, tetapi menurut tafsir Anda, kata itu di luar 7 ayat Alfatihah. Apa alasannya?.
                        Kedua, pada ayat 1 Anda membedakan arti Alloh dengan Tuhan (Hukum). Apa alasannya?
                        Ketiga, pada ayat 2 Anda menafsirkan Alloh adalah Akal yang bermoral pengasih penyayang, apa alasannya?.
                        Keempat, pada ayat 3 Anda menyebutkan, bangsa akal adalah katalisator (zat pemroses yang tidak terpengaruh dan rusak oleh yang diprosesnya). Bukankah itu berarti bahwa pencipta makhluk wujud sebenarnya bukan Alloh tetapi bangsa akal sebagai makhluk  ciptaannya juga seperti dikatakan pada ayat 4?.
                        Kelima, pada ayat 5 diketahui, ternyata kita makhluk wujud adalah bangsa rasa, dan akal bukan milik kita tetapi nikmat Alloh yang dianugerahkan kepada makhluk wujud seperti disebutkan ayat 6-7, sehingga penciptaan jadi rasional. Karena itu saya minta penjelasannya.


Jawaban

Sandie       : “Tafsir Qur’an ini menggunakan sunnah Muhammad. Sunnah Muhammad bukan hadits, tetapi pola qisos (pasangan saling mengekalkan) disiplin ilmu. Dirumuskan Nabi Muhammad dari quantum leap (lompatan bundel di cermin-P), dan dipakai sebagai pola menyusun ayat-ayat Qur’an. cermin-P adalah hukum keseimbangan rasa dan jasad yang berpusing 2 mc2. Pembuktian mesin pemercepat zarah (particle accelerator) fisika nuklir menyatakan, lompatan bundel-bundel terjadi ke 3-arah, yaitu: belakang-ke-depan, sisi-ke-sisi, dan naik-turun.
                        Pertama. Bismillaahir rohmaanir rohiim adalah bundel belakang (moral) membangun bundel depan (hukum) yaitu alfatihah (pembuka hukum induk Qur’an atau moral hukum penciptaan), sehingga tidak bisa tidak harus dipisahkan dari kelompok ayat yang dibangunnya. Anda sendiri bisa melihat pada surat-surat selanjutnya dalam Qur’an, yang selalu dimulai dengan bismillaahir rohmaanir rohiim terpisah dari ayat-ayat dalam suratnya.
                        Kedua. Ayat 1 adalah lompatan belakang-ke-depan. Menjelaskan awal penciptaan, yaitu: Alloh Pencipta (bundel belakang: moral Alloh) membangun Tuhan (bundel depan: Hukum) sebagai penguasa semesta alam. Rosul Muhammad memuji Alloh, karena Dia telah  menyerahkan kekuasaannya (ambisinya) atas alam ciptaan kepada Hukum.
                        Ketiga. Ayat 2 menjelaskan jatidiri Alloh yang menciptakan alam dengan ilmu. Sebab segala sesuatu dalam alam berlangsung dalam proses evolusi perubahan bentuk mengurut sinambung dari bahan hingga jadi benda dan dari sebab ke akibat. Bila proses evolusi itu dijejaki mundur ke belakang dan maju ke depan, maka seluruh penciptaan akan dapat dijelaskan akal dengan alasan-alasan ilmu. Karena alam diciptakan dengan ilmu, maka penciptanya yang oleh Rosul Ibrohim disebut Alloh, pasti Akal. Ternyata dari lompatan bundel diketahui bahwa Akal itu adalah Moral Pengasih-Penyayang. Itu pula alasannya, mengapa bismillaahir rohmaanir rohim harus dipisahkan dari Alfatihah 1-7.
                         Keempat. Ayat 3 menjelaskan hasil penjejakan mundur yang memberitahu. Sebelum penciptaan, Alloh hadir berjasad sendirian tanpa ditemani apapun dan siapapun. Disiplin ilmu menyatakan, untuk menciptakan sesuatu (makhluk = pasangan hidupnya = isterinya), Alloh memerlukan bahan. Artinya, isteri (pasangan hidup) Alloh seperti dikatakan Annisaa’ 1 adalah bahan seluruh makhluk (alam dan segenap isinya). Karena tidak ada bahan, maka Pencipta membuang jasadnya untuk dijadikan bahan makhluk (isteri Alloh) berupa rasa ke permukaan ruang. Setelah jasadnya dibuang, Pencipta lenyap tanpa wujud. Di tempat lenyapnya, muncul thermonuklir raksasa (pelita besar: Annuur 35) yang melangsungkan pembelahan inti berantai sinambung. Hasilnya adalah para zathidup yang mengalir kepada bahan (rasa keadaan negatif pusingan jenuh).
                         Itu berarti, Alloh adalah Dzat Mahahidup. Karena Dzat Mahahidup itu Akal, maka para zathidup yang diciptakan dari dirinya sendiri adalah bangsa akal. Dalam Qur’an, tenaga aliran (tenaga-tambahan) bawaan zathidup itu adalah isterinya (quark yang jadi pasang-annya = rasa) sebagaimana dirumuskan Peter Higgs dengan sebutan zat-pembawa di medan Higgs. Artinya dalam Qur’an, tenaga-tambahan itu disebut para isteri bangsa akal.
                        Hukum dasar fisika menyatakan, jika Dzat Sempurna menciptakan sesuatu, dia akan melandasi ciptaannya dengan kesempurnaan dirinya. Kesempurnaan diri Alloh terletak pada akalnya. Karena itu Alloh adalah Akal. Pembuangan jasad merupakan pengorbanan Alloh paling besar, sehingga membangun Tuhan Alloh (Hukum Akal). Lalu Alloh menciptakan katalisator dari akalnya sendiri, sehingga dapat dipastikan, katalisator penciptaan itu adalah bangsa akal sebagai zat penghidup bahan, pembangun jasad makhluk, dan pemroses perilaku-perbuatan makhluk. Dengan demikian jadi jelas, karena Dzat Sempurna itu Akal, maka landasan penciptaannya Hukum Akal, dan katalisator penciptaannya bangsa akal.
                        Ketika para zathidup menghidupkan bahan (isteri Alloh), isteri para zathidup (tenagatambahan = lelaki) mencampuri bahan  (menzinahi isteri Alloh = perempuan). Tenagatambahan adalah syarat dari Wolfgang Pauli untuk mempercepat pusingan (proses pemadatan) bahan pusingan jenuh (contoh, pusingan elektron pada orbitnya). Maka berlangsunglah pemadatan bahan melalui percepatan pusingan terus meningkat hingga ruang ke-100 (dera 100 kali, Annuur 2). Lalu terjadi ledakan besar supernova (supernova big bang), bukan hanya big bang (ledakan besar) seperti dirumuskan Allan Guth. Artinya, yang dimaksud lelaki dalam Qur’an adalah akal, sedangkan perempuan adalah rasa, sehingga arti lelaki dan perempuan menjadi nisbi. Kenisbian mendefinisikan, penganut hukum akal adalah lelaki, dan penganut hukum rasa-jasad adalah perempuan meski ujudnya lelaki. 
                        Ketika ledakan besar supernova terjadi, bagian kulit bahan menghambur ke atas dan berproses cepat membangun 3-dimensi ruang Syurga (alif-laam-shood, P1). Bagian hati bahan mengerut runtuh drastis dan lenyap dalam sekejap menjadi lubang hitam (blak hole), karena menumbuk cermin-T (Hukum Akal), dan dilontarkan ke ujud tampak jadi 3-dimensi ruang Fana (alif-laam-roo, P2). Sedangkan ruang kosong yang ditinggalkan bahan, diisi bangsa akal di ruang ke-80 (Albaqoroh 17-18, Annuur 4 = dera 80 kali). Membangun 3 dimensi ruang bayangan cermin (alam Ruh) dalam kesatuan khusus 3 dimensi hukum-akal-rasa (alif-laam-miim, P3), menghasilkan aksioma kedua ruang Haussdorff.  
                        Hukum Akal adalah hukum evolusi sebab-akibat. Dia membebaskan makhluk memilih langkah hidup sendiri dalam menentukan nasibnya, sebagaimana diketahui dari lompatan bundel-bundel rasa ke 3-arah di cermin-P, menghasilkan penciptaan alam dan seluruh isinya. Tetapi di alam akibat, Hukum Akal berkuasa mengadili makhluk dan memutuskan perkara dengan memberi pembalasan setimpal menurut moral perilaku-perbuatan yang dilakukan masing-masing diri makhluk, tanpa pembela dan tanpa penolong.
                        Ayat 4-5 adalah lompatan sisi-ke-sisi. Ayat 4 menjelaskan janji para zathidup di alam fitroh (bacaan subuh), ketika mengalir keluar dari keluarganya di Sidrotil Muntaha (pohon teratai = pusat alam) menuju bahan. Para zathidup menyatakan hanya akan mengabdi kepada Tuhan Alloh (Hukum Akal) yang telah mengevolusikan penciptaannya, dengan mendirikan sholat (menegakkan hukum) dari awal penciptaan (matahari tergelinir keluar dari ufuknya di timur) hingga akhir kiamat. (tenggelam di ufuk barat = gelap malam). Sedangkan dalam membangun jasad makhluk dan memproses perilaku-perbuatan makhluk, mereka akan meminta pertolongan hanya kepada Alloh atau Akal (Al-Isroo 78).
                        Ayat 5 adalah janji bangsa rasa (bahan makhluk wujud), juga di alam fitroh. Janji itu disebutkan pada lompatan naik-turun atau ayat 6 dan ayat 7, yaitu akan menggunakan akalnya membuka rahasia-rahasia alam untuk mencari kebenaran ilmu dan hukum-hukum yang benar, agar tidak dimurkai Alloh (Yunus 100). Sebab akal setiap diri makhluk adalah tali penghubung dirinya dengan Alloh. Mereka yang menolak akalnya berarti menolak tali penghubung dengan Alloh, sehingga jadi makhluk yang jalan hidupnya sesat.
                        Dari uraian itu jelas sekali, hukum penciptaan adalah hukum qisos (pasangan saling mengekalkan, kekekalan massa dan tenaga) antara Kholik (Pencipta = Akal, ayat 1-3) dengan makhluk (alam dan segenap isinya = bangsa rasa, ayat 5-7), yang oleh Rosul Muhammad hukum qisos itu disebut hukum pembalasan seimbang.

                
                  
Tafsir 1a. Al-Baqoroh 1-5

Komponen Akal dari Dimensi Akal
Ayat 01. Alif-laam-miim = hukum-akal-rasa = negatif-nol-positif.
Ayat 02. Kitab Alloh (alam peragaan = alam Fana) ini diciptakan Akal dengan ilmu yang berlangsung dalam proses evolusi perubahan bentuk mengurut sinambung dari bahan hingga jadi benda-peristiwa wujud, penuh dengan kejanggalan-kejanggalan tampilan. Maka tidak diragukan lagi (tidak ada keraguan padanya), alam Fana dengan berbagai kejanggalannya merupakan petunjuk bagi mereka yang takwa (mematuhi Hukum Akal).
                     Sebab proses evolusi memberi alasan-alasan mengapa sesuatu terjadi, bagaimana terjadinya, dari bahan apa dibuatnya, apa unsur-unsur perusaknya, dan bagaimana nasib akhirnya. Dengan demikian, bila dijejaki mundur ke belakang dan maju ke depan, seluruh penciptaannya akan bisa djelaskan akal dengan alasan-alasan ilmu yang benar.
Ayat 03. Dari tiga kebenaran yang dianut manusia di muka Bumi dapat diketahui. Mereka yang beriman kepada Akal sebagai Pencipta tanpa wujud (yang ghoib) ialah penganut kebenaran korespondensi. Sebab kebenaran korespondensi menyatakan: Kebenaran harus selaras dengan fakta, sejalan dengan kenyataan, dan serasi dengan bukti penelitian.
                     Dengan demikan jelas sekali, orang-orang beriman adalah para ilmuwan yang mendirikan sholat (menegakkan aturan hukum akal), sebab tidak dapat menerima kebenaran-kepercayaan yang janggal-janggal tidak masuk akal dan tidak adil. Dalam perjalanan hidupnya, mereka selalu berusaha membuka kejanggalan-kejanggalan yang diperlihatkan alam, dan menafkahkan sebagian perolehan rizki (harta-ilmu) hasil pencariannya yang kami (hukum-hukum ruangwaktu) anugerahkan kepada mereka.
Ayat 04. Para ilmuwan pembuka kejanggalan-kejanggalan alam terdiri dari dua jenis, yaitu para akademisi yang memperoleh gelar sarjana-master-dokter-profesor dari sekolah, dan para ummi (kaum moralis penganut kebenaran akal) sebagai ilmuwan amatir. Dua kelompok ilmuwan ini iman (percaya) kepada kitab petunjuk Muhammad (Qur’an) yang telah diturunkan Tuhan Alloh (Hukum Akal) kepada kamu (makhluk wujud otak tinggi), dan percaya kepada kitab-kitab petunjuk para rosul lain (Taurot-Zabur-Injil) yang telah diturunkan para rosulnya kepada manusia sebelum generasi kamu.
                     Dengan meneliti kitab Alloh (alam peragaan) dan mempelajari kitab-kitab petunjuk para rosul, mereka mengetahui bahwa alam diciptakan dalam hukum evolusi dari sebab ke akibat, sehingga akan terjadi proses kiamat sebagai pembalikan ruangwaktu, dan dirinya akan dibangkitkan kembali di hari akibat untuk memenuhi hukum qisos (hukum pasangan saling mengekalkan = hukum pembalasan seimbang) penciptaan antara Kholik dan makhluk (alam dan seluruh isinya).
Ayat 05. Hukum Akal yang jadi hukum penciptaan ialah hukum qisos (pasangan saling mengekalkan) karena untuk menciptakan makhluk, Akal (Alloh) telah membuang pasangan dirinya, yaitu jasadnya (rasa) untuk dijadikan bahan makhluk (alam dan seluruh isinya), sehingga penciptaan ini merupakan pasangan saling mengekalkan antara Kholik (Akal = lelaki) dengan makhluk (rasa = perempuan).
                     Karena Alloh Pencipta alam adalah Akal, maka para ilmuwan penganut kebenaran akal (kebenaran korespndensi) adalah orang-orang yang beriman kepada Alloh. Dengan berpegang kepada kebenaran akalnya, berarti mereka berpegang kepada tali penghubung makhluk dengan Alloh, sehingga dapat dipastikan, mereka (penganut kebenaran akal) itu akan tetap mendapat petunjuk dari Hukum Akal yang menjadi Tuhannya. Karena Tuhan Alloh ialah hukum pembalasan setimpal menurut perilaku-perbuatan, maka mereka adalah orang-orang yg beruntung karena akan mendapat pahala Syurga di hari akibat.

Tanggapan Ma’mun

Ma’mun: “Jawaban Anda terhadap pertanyaan saya tentang tafsir Alfatihah, sangat mengejutkan. Ternyata ayat 1-7 Alfatihah itu disusun Nabi Muhammad dengan rumusan fisika quantum yang ditemukan oleh banyak kosmologiwan dunia. Itu berarti, tafsir yang sekarang pun merupakan rumusan fisika. Karena itu ada beberapa pertanyaan yang akan saya ajukan pada tafsir Albaqoroh 1-5 sekarang.
                    Pertama. Mengapa dalam menafsirkan Albaqoroh itu Anda mengambil lima ayat?. Saya minta alasannya.
                    Kedua. Sebelum menafsirkan, Anda mencantumkan komponen akal dari dimensi akal pada lima ayat itu. Apa alasannya?.
                    Ketiga. Ruang bayangan cermin dalam kesatuan khusus 3-dimensi hukum-akal-rasa seperti   dijelaskan dalam Alfatihah adalah alif-laam-miim Ada dua pertanyaan yang perlu disampaikan.
              1)  anda mengartikan alif-laam-miim dengan negatif-nol-positif. Apa alasannya?;
              2)  dalam Al-Hijr ayat 87 dikatakan, 7 ayat Alfatihah itu selalu dibaca berulang-ulang, sehingga para ulama mengatakan 7 ayat itu dibaca berulang-ulang dalam ritual sholat 5 kali sehari-semalam, yang berarti ritual sholat itu benar adanya, padahal menurut Anda, sholat adalah aturan hukum. Bagaimana Anda menjelaskan hal ini?.
                    Keempat. Uraian ayat 2 sudah jelas. Tetapi pada ayat 3 ada tiga pertanyaan:
              1)  sejalan dengan Alfatihah ayat 3, tanpa wujud Alloh diambil dari An-Nuur 35. Saya sulit menangkap arti ayat itu, apa Anda bisa memasukkan tafsirnya?;
              2)  anda menyebutkan tentang tiga kebenaran yang dianut manusia, tetapi yang Anda sebutkan hanya kebenaran korespondensi. Saya kira yang dua kebenaran lagi perlu dijelaskan agar kita tahu, kebenaran apa yang salah atau sesat dianut manusia menurut Akal;
               3)  dalam menafsirkan Al-Fatihah 4-5, Anda mengambil rujukan Al-Isroo 78. Ketika saya buka, ayat itu ditafsirkan ulama sebagai perintah ritual sholat. Dari tergelincir matahari hingga gelap malam adalah ritual sholat dzuhur, asar, magrib, isya, dengan asar sebagai sholat pertengahannya, dan bacaan subuh = sholat subuh. Bagaimana cara Anda menjelaskannya?
                    Kelima. Pada ayat 4 Anda menafsirkan ummi sebagai kaum moralis penganut kebenaran akal, sedangkan menurut agamawan, arti ummi adalah bodoh. Tetapi saya lebih setuju pada tafsir Anda setelah mengetahui bahwa sunnah Muhammad adalah pola qisos disiplin ilmu. Itu berarti, hadits bukan sunnah. Apa ada alasan penguatnya?;
                     Keenam. Pada ayat 5 Anda membuka hukum qisos penciptaan. Ada dua pertanyaan:
               1)  apa Anda bisa menjelaskannya secara awam?;
               2) apa Anda bisa menjelaskan hukum yang membuat pembalikan ruangwaktu? Soalnya, hingga sekarang bahkan ilmuwan dunia termasuk Einstein dalam Teori Relativitasnya belum tahu nasib alam raya, apa akan mengembang terus selamanya atau akan mengerut kembali ke awal penciptaan?.


Jawaban.
          
Sandie: “Pertama. Seperti telah dikemukakan, dalam menafsirkan Qur’an, saya memakai sunnah Muhammad. Sunnah Muhammad adalah pola qisos disiplin ilmu. Unsur-unsurnya adalah: Alalaq (rumusan akal), Alqolam (kejanggalan teknologi = pena atau gejala tampak), Almuzzamil (data ilmu), Almuddatstsir (simpulan pemimpin), dan Alfatihah (rumusan hukum). Pola ini berlaku dalam satu ayat, satu kelompok ayat, satu surat, satu kelompok surat, dan satu Alqur’an.
                    Kedua. Dengan mengambil minimal 5 ayat berarti saya mengambil satu komponen yang terdiri dari lima unsur, atau seperlima dari dimensi akal. Artinya, minimal 5 ayat selanjutnya adalah komponen pengetahuan (kejanggalan tampilan atau dibalik tabir sebagai petunjuk) dari dimensi akal, lalu komponen ilmu (hasil penelitian lapangan) dari dimensi akal, kemudian komponen pemimpin dari dimensi akal, terakhir komponen hukum dari dimensi akal. Setelah itu, dalam urutan yang sama adalah dimensi pengetahuan, dan seterusnya. Itu adalah susunan ayat-ayat Qur’an rumusan Nabi Muhammad dalam pola qisos, sehingga seluruh ayat Qur’an disusun berpola simetri qisos. Pola simetri qisos inilah yang membuat ayat Qur’an jadi sempurna
                     Ketiga.
              1)  Negatif-nol-positif itu simetri tingkat sigma (pasangan akhir) segala sesuatu. Contoh: syurga-ruh-fana, wanita-banci-pria, elektron-netron-proton.
              2)  Alfatihah itu induk = inti Qur’an = inti penciptaan, yaitu hukum moral yang dirumuskan Rosul Muhammad dari quantum leap (lompatan bundel-bundel) di cermin-P (hukum keseimbangan rasa dan jasad) = batas alam Ruh dalam kesatuan khusus 3-dimensi. 7-ayat itu dijabarkan jadi Albaqoroh (hukum), Ali Imron (bangsa akal sebagai katalisator = lelaki), dan Annisaa (rasa atau bahan = perempuan) dalam kesatuan khusus 3-dimensi alam ruh, yaitu hukum-akal-rasa
                           Para ulama menafsirkan 7-ayat yang dibaca berulang-ulang menurut bunyi tertulis. Padahal maksud ayat itu, dibaca berulang-ulang = dijabarkan berulang-ulang (Al-Hijr 87) dalam kelompok-kelompok ayat (komponen-komponen ayat yang setiap komponennya berisi lima unsur ayat, Al-Furqoon 32) hingga 30 Juz Qur’an. Itu alasannya, mengapa ayat-ayat Qur’an tidak diturunkan sekaligus, tetapi dalam kelompok-kelompok ayat. Sebab seluruh ayat Qur’an dirumuskan dari lompatan bundel-bundel sebagai akar ilmu penciptaan. Maka dapat dipastikan, Qur’an adalah Buku Petunjuk Kosmologi (ilmu asal ke-jadian segala sesuatu).
                           Dari Alfatihah 1-7 diketahui. Ayat 1-3 (lompatan belakang-ke-depan) adalah hukum moral yang tidak berujud sehingga nilainya negatif. Ayat 4-5 (lompatan sisi-ke-sisi) ialah bangsa akal (negatif) sebagai katalisator penciptaan penghidup-pembangun bangsa rasa (positif), sehingga nilainya nol. Ayat 6-7 (lompatan naik-ke-turun) adalah bangsa jasad yang berujud sehingga nilainya positif.
                     Dilihat dari lompatan bundelnya, Alfatihah dirumuskan Nabi Muhammad dalam Rukun Islam sebagai falsafah peradaban Islam, yaitu: belakang-ke-depan (moral pengasih-penyayang membangun hukum sebab-akibat = syahadat mendirikan sholat); sisi-ke-sisi (tugas bangsa akal membangun kewajiban bangsa rasa = zakat membangun puasa); dan naik-ke-turun (pemimpin yang diangkat membangun kewajiban-tugas menyelamatkan-mencerdaskan-memakmurkan rakyat = haji membangun umroh). Dari uraian ini jelas, Rukun Islam bukan perintah Alloh, tetapi amanat-amanat Alloh yg diapresiasi dari quantum leap dan dirumuskan Rosul Muhammad menjadi janji manusia terutama para pemimpin (Al-Mu’minuun 8).
                            Keempat. Untuk menjawab pertanyaan 1), berikut adalah tafsir An-Nuur 35.      
                Sebelum penciptaan, Alloh hadir berjasad sendirian tanpa ditemani apapun dan siapapun. Untuk menciptakan makhluk (pasangan dirinya) memerlukan bahan. Karena tidak ada bahan, moral Alloh mengorbankan jasadnya untuk dijadikan bahan makhluk. Setelah jasadnya dibuang, Alloh yang tinggal Akal lenyap tanpa wujud (antirasa-antijasad). Di tempat lenyapnya Alloh pada awal penciptaan, moral Akal membangun Hukum Akal berupa gaya (sinar-tenaga) nuklirkuat untuk mengatur-mengendalikan ruang (langit) dan seluruh benda (bumi) pengisinya.
                            Perumpamaan nuklirkuat itu seperti sebuah ruang kosong (alam ruh) berbentuk lubang, tetapi tidak bisa ditembus makhluk wujud karena merupakan gayatolak kosmis Newton. Di bagian dalam lubang terdapat pelita besar (thermonuklir raksasa). Pelita itu di dalam bola seperti kaca. Bola kaca itu bagai bintang yang berkilau.
                           Bintang tersebut dinyalakan dari pohon (tungku nuklir) yang banyak berkahnya (sumber segala kehidupan). Pohon penghasil minyak zaitun (tungku nuklir yang melangsungkan pembelahan inti berantai sinambung, menghasilkan aliran zathidup pembawa tenaga-tambahan berupa zarah gaung quark), yang letaknya tidak di timur dan tidak di barat, tetapi di tengah (di pusat) ruang, yang minyaknya (bahan berupa quarknya) saja hampir-hampir bersinar (berujud) meski tidak disentuh api (dicampuri tenaga-tambahan bawaan zathidup).
                           Sinar di atas sinar (gaya nuklirkuat dan kecerdasan itu bertingkat-tingkat karena hambatan gaya-gaya vektor seperti nuklirlemah-elektromagnet-gravitasi dan politik-faham-agama). Akal membimbing sinarnya (kemampuan dan kecerdasannya) kepada siapa yang Dia kehendaki (penganut kebenaran akal). Begitulah Akal membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Akal mengetahui segala sesuatu.
                     Ayat di atas menceritakan pusat alam (sidrotil muntaha = pohon teratai atau Rumah Alloh = Hukum Akal) berupa thermonuklir raksasa. Ketika aliran zathidup menumbuk bahan, berlangsunglah proses penciptaan karena percampuran (perzinahan) antara tenaga-tambahan bawaan zathidup dengan bahan seperti dijelaskan An-Nuur ayat 2-4, hingga terjadi ledakan besar supernova (supernova big bang) bukan hanya big bang seperti kata Allan Guth, menghasilkan 3-dimensi ruang ciptaan, yaitu alam syurga (P2, negatif), alam ruh (P3, nol), dan alam Fana (P1, positif) seperti dirumuskan aksioma kedua ruang Haussdorff.   
                     Jawaban pertanyaan 2). Menurut The Theory of Truth (Teori Tentang Kebenaran), dalam garis besarnya di dunia ini terdapat 3-kebenaran yang dianut manusia. Kebenaran pragmatis, yaitu kebenaran agama (kebenaran praktek ritual penyembahan jasad-benda-patung yang memuaskan perasaan). Kebenaran konsistensi, yaitu kebenaran politik (kebenaran kesepakatan rasa syahwat-angkara-pamrih-ambisi yang memuaskan jasad). Kebenaran korespondensi sudah dijelaskan di atas.
                     Jawaban pertanyaan 3). Alfatihah itu hukum moral di alam Ruh dalam kesatuan khusus 3-dimensi hukum-akal-rasa atau 3-ganjil tanpa wujud (yang bersih mengisi ruang). Ia bukan alam wujud yang disebut kitab Alloh (Baqoroh 2). Karena itu, ayat 4 adalah bangsa akal sebagai katalisator dan ayat 5 bangsa rasa sebagai bahan di alam fitroh (waktu subuh sebelum pagi hari = awal penciptaan), sehingga yang diucapkannya (bacaan subuh) adalah janji fitroh. Dalam pola qisos, Al-Isroo 78 adalah cermin-C (kaaf) di alam ruh sebagai batas dari alam quark atau bahan berupa rasa = langit ke-78.
                     Karena pasangannya gelap malam (matahari terbenam), menurut qisos, tergelincir matahari harus awal hari atau awal penciptaan (keluarnya matahari pagi hari di ufuk timur). Jadi, tafsir Al-Isroo 78 seharusnya janji fitroh: mendirikan sholat (menegakkan hukum) dari awal penciptaan (pagi hari) hingga akhir kiamat (gelap malam). Sedang sholat whusta atau sholat pertengahan bukan asar, tetapi magrib dan subuh sebagai pembalikan siang ke malam dan pembalikan malam ke siang 
                     Kelima. Pertanyaan Anda akan saya jawab dengan menyitir keterangan dalam pengantar Qur’an terjemahan Depag RI halaman 114 berikut: Pada mulanya hadits tidak dikumpulkan seperti Al-Qur’aanul Karim, karena banyak ucapan-ucapan Rasulullah yang maksudnya melarang membukukan hadits. Larangan itu antara lain tersebut dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Abu Said Al-Khudri yang berkata: ‘Bersabda Rasulullah s.a.w.: Jangan kamu tuliskan ucapan-ucapanku! Siapa yang menuliskan ucapanku selain Al-Qur’aan, hendaklah dihapuskan, dan kamu boleh meriwayatkan perkataan-perkataan ini. Siapa yang dengan sengaja berdusta terhadapku, maka tempatnya adalah neraka’.
                     Dengan berpegang kepada Al-Haaqqoh 40-42 yang menyatakan: ‘Sesungguhnya (Qur’an) ini perkataan rosul yang mulia, bukan perkataan penyair, dan bukan perkataan tukang sihir’, maka amat jelas, Rosul Muhammad melarang menuliskan-mengumpulkan-membukukan-menganut hadits, karena ucapannya adalah Qur’an, sehingga hadits harus dihapuskan. Siapa yang mendustakan larangan ini, Rosul Muhammad mengancam dengan penghunian neraka. Artinya, yang menuliskan-mengumpulkan-membukukan-menganut hadits dipastikan bakal masuk neraka.
                     Keenam. Pertanyaan pertama sudah dijelaskan di atas. Pertanyaan kedua diperoleh dari tafsir An-Nuur 35. Ayat itu menyatakan, Hukum Akal adalah gaya nuklirkuat sebagai pengatur-pengendali 3-dimensi ruang semesta (syurga-ruh-fana). Gaya nuklirkuat memiliki sifat aneh. Karena gaya-gaya yang lain (nuklirlemah-elektromagnet-gravitasi), ketika benda yang diikatnya berdekatan, daya ikatnya sangat kuat, dan semakin menjauh benda yang diikatnya, daya ikatnya semakin lemah. Sebaliknya, keanehan gaya nuklirkuat ialah, ketika zarah-zarah yang diikatnya berkumpul berdekatan, daya ikat itu tidak ada, tapi semakin jauh zarah-zarah yang diikatnya, daya ikatnya semakin kuat. Pada regangan maksimum menjauhnya, gaya nuklirkuat akan menyeret balik zarah-zarah yang diikatnya agar berkumpul berdekatan kembali. Sifat aneh gaya nuklirkuat ini memberi petunjuk:
1)      Hukum Akal membebaskan makhluk memilih langkah hidup sendiri dalam menentukan nasib dirinya, dibuktikan oleh tidak adanya daya ikat ketika berkumpul berdekatan;
2)      pada regangan maksimum menjauhnya, alam yang meloncat ke ujud tampak yang diikatnya, dia akan menyeret balik ke lubang bekas meloncatnya, agar berkumpul berdekatan kembali. Artinya, pembalikan ruangwaktu atau proses kiamat akan terjadi ketika pengembangan alamfana mencapai regangan maksimum yang terjadi pada usia 15 miliar tahun dalam ukuran garistengah 30 miliar tahun cahaya (regangan maksimum Bulan mengitari Bumi = 15 hari waktu purnama). Paul Dirac menyatakan, elektron yang meloncat ke ujud tampak akan jatuh cepat kembali ke lubang bekas meloncatnya.
3)      dalam peristiwa kiamat, alam Fana akan berkumpul kembali di alam Ruh (alif-laam-miim) dengan pasangannya alam Syurga (alif-laam-miim-shood), sehingga alam Fana menjadi Neraka (alif-laam-miim-roo).
4)      Orang yang beruntung masuk Syurga adalah yang meneladani moral pengasih-penyayang Alloh dengan membunuh-mengosongkan-membuang rasa (nafsu) syahwat-angkara-pamrih-ambisi jasad, sehingga dalam seretan kiamat akan menembus hukum-hukum ruang (cermin C-CP-T-P) dan masuk jalur Ridwan menuju Syurga. Sedangkan penganut kebenaran pragmatis dan konsistensi (hukum ego manusia), dalam seretan kiamat itu akan terus berada di permukaan ruang (di alam rasa) karena memuaskan nafsu syahwat-angkara-pamrih-ambisi-jasad, dan masuk jalur Malik menuju Neraka.
               The General Theory of Relativity (Teori Kenisbian Umum) Albert Einstein itu politisasi ilmu, bukan ilmu yang sebenarnya. Menurut teori skalar-tensor Pascual Jordan, dalam alam ada 4-kekuatan, yaitu gaya nuklirkuat, nuklirlemah, elektromagnet, dan gravitasi. Gaya nuklirkuat sebagai medan skalar alam semesta yang bergerak dalam kecepatan tanpa batas adalah tensor urutan 0 atau cermin-CPT sebagai mesin kerja alam. Akibat hambatan gaya-gaya vektor sebagai tensor urutan 1, menghasilkan listriklemah sebagai tensor urutan 2, diklaim jadi gravitasi Einstein yang bergerak dalam kecepatan cahaya sebagai medan skalar ruangwaktu.
                     Tetapi menurut tangkapan saya, tensor urutan 2 ialah alamraya Wilhelm de Sitter, yaitu ruang berisi gerakan tanpa massa. Sebab ia gaya nuklirkuat (medan skalar alam semesta) yg telah dihambat gaya-gaya vektor, jadi gaya listriklemah (pusingan lubang hitam dalam kecepatan cahaya). Sedangkan gravitasi Einstein adalah salah satu vektor, karena sifatnya mengarah, sehingga tidak bisa disebut medan skalar (pusingan ruang). Kenisbian umum sendiri menyatakan, alamraya Einstein adalah ruang berisi massa tanpa gerakan.
               Itu berarti medan gravitasi Einstein bukan gerakan ruang dalam kecepatan cahaya. Tetapi hamparan ruang kasar alamfana yang bergerak kurang dari 100.000 km/detik. Sebab, ketika benda bergerak 100.000 km/detik dia akan dihantam-gencet gaya electromagnet di ruang kosong pada pusingan 100.000 km/detik, sehingga mengerut jadi sekecil atom dan masuk alam halus dalam hamparan medan electromagnet, bukan hamparan medan gravitasi lagi.
                Ketika Einstein mengumumkan teori kenisbian umum tahun 1917, langsung datang kritik dari Alexander Friedmann karena kenisbian umum tidak punya tetapan kosmologi. Maka Friedmann menyatakan, tanpa tetapan kosmologi, teori kenisbian umum tidak akan ada. Sebab alamraya Einstein ruang berisi massa tanpa gerakan, sedang tetapan kosmologi ialah gerakan ruang. Kenyataannya dalam alam hanya ada 4-kekuatan: nuklirkuat-nuklirlemah-elektromagnet-gravitasi. Sedang listriklemah gabungan dari nuklirlemah dan elektromagnet.
                     Agar kenisbian umum diakui ilmu, Einstein terpaksa memunculkan gaya lambda sebagai tetapan kosmisnya, yaitu gravitasi menyeluruh Newton. Rupanya dia mau membuang tetapan kosmologi Newton. Padahal gravitasi menyeluruh Newton yang bergerak tanpa batas bukan gravitasi tetapi gaya nuklirkuat. Ketika Wilhelm de Sitter mengeluarkan rumusan alam gerakan tanpa massa (medan listriklemah), Einstein menuduhnya sebagai perampok rumusannya. Tetapi kebencian Einstein terhadap gaya lambda, membuat dia terus berusaha mencari jalan untuk membuangnya lagi. Usahanya berhasil setelah menggabungkan teorinya dengan rumus de Sitter tahun 1932, sehingga alamraya Einstein-de Sitter jadi ruang berisi massa dan gerakan. Lalu Einstein mengganti nilai lambda lebih besar dari 0, oleh lengkung K dan kepadatan p dari persamaan Friedmann-Lemaitre bernilai 0, sehingga teori big bang Allan Guth masuk dalam rumusannya  Hasilnya, ruang mengembang dengan percepatan tetap q = -1.
                     Pengubahan nilai lambda dilakukan untuk membuang alam ruh sebagai akar ilmu segala penciptaan. Dengan nilai lambda 0, alamfana tetap mandiri yang diketahui asal kejadiannya (dari big bang Allan Guth) sebagai geometri lonjong, tetapi tidak diketahui nasib akhirnya. Untuk mengunggulkan rumusan kenisbian umum agar jadi kiblat para ilmuwan, tahun 1935 Einstein dan kelompoknya menyusun makalah bersama Einstein-Podolski-Rosen. Makalah itu membunuh kosmologi Newton, teori quantum Max Planck, dan Relativistic Wave Equation (persamaan gelombang nisbi) Paul Dirac.
               Mereka menyatakan, teori Planck tidak menggambarkan realitas nyata secara fisik, dan alam abstrak itu tidak berguna bagi kehidupan nyata. Padahal quantum Planck berhubungan erat dengan lompatan bundel sebagai akar ilmu penciptaan. Sedang persamaan gelombang nisbi Dirac yang diterima Einstein bukan x = 0 dengan fungsi delta tak terbatas, tetapi yang x tidak = 0 dengan fungsi delta terbatas, sehingga alamfana jadi geometri lonjong ruangwaktu, sebagai alam mandiri yang diketahui asal kejadiannya dari big bang, tetapi tidak diketahui nasib akhirnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar